Gudangberita.co.id, Natuna – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang Presiden Prabowo Subianto sebagai motor penggerak ekonomi petani lokal, kini justru menyisakan pilu di Kabupaten Natuna.
Alih-alih meraup untung dari lonjakan permintaan, para petani di Pulau Bunguran Besar mengaku “dicekik” oleh sistem distribusi yang mewajibkan mereka melalui tangan kedua atau supplier.
Kehadiran perantara ini dianggap sebagai sekat yang memisahkan keringat petani dengan dapur-dapur MBG. Dampaknya fatal: harga jual di tingkat petani dipangkas habis-habisan demi keuntungan pihak ketiga, membuat mimpi kesejahteraan jauh panggang dari api.
Usman, salah seorang petani lokal, membeberkan realitas pahit di lapangan. Meski ia memiliki hasil panen yang berkualitas, niatnya untuk memasok langsung ke dapur MBG di wilayah Natuna sering kali berujung penolakan.
Pihak pengelola dapur beralasan bahwa semua pasokan harus melalui satu pintu, yakni supplier yang telah ditunjuk.
“Memang tidak semua. Kalau di Dapur Batu Hitam dan Ranai Darat, mereka masih terima hasil panen langsung di dapur. Tapi untuk dapur MBG lain, harus melalui supplier kata orang dapurnya,” ungkap Usman kepada media, Kamis (14/5/2026).













