Beberapa pihak mulai mempertanyakan apakah menjamurnya bisnis olahraga eksklusif ini murni karena peluang pasar yang menjanjikan, atau justru menjadi instrumen baru bagi praktik pencucian uang (money laundering).
Menanggapi hal ini, beberapa pengamat bisnis di Batam mengingatkan agar publik tidak terjebak dalam asumsi tanpa bukti.
“Investasi besar memang selalu memancing kecurigaan, apalagi di bidang gaya hidup. Namun, kita juga harus melihat potensi Batam sebagai hub internasional. Investor tentu melihat peluang dari ekspatriat dan wisatawan Singapura yang hobi bermain padel,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Muncul keraguan apakah padel hanya sekadar fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang akan layu dalam setahun. Namun, ada beberapa alasan mengapa Padel punya peluang bertahan lama di Batam:
Sangat Sosial: Memungkinkan pemain mengobrol di sela permainan karena area yang lebih intim.
Mudah Dimainkan: Pemula bisa langsung melakukan reli panjang dalam waktu 30 menit belajar.
Target Pasar Wisata: Letak strategis Batam berpotensi menarik wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang sudah lebih dulu menggandrungi olahraga ini.
Hingga kini, isu miring yang beredar masih sebatas rumor di permukaan. Namun, transparansi kepemilikan dan perizinan usaha tetap menjadi poin penting yang disorot agar tren positif olahraga ini tidak ternodai oleh isu-isu non-teknis.







