“Awalnya saya kira sama saja dengan tenis, ternyata lebih seru karena ada dinding kacanya. Bolanya nggak gampang mati. Buat kami yang jarang olahraga berat, padel lebih ramah di jantung tapi tetap bikin keringat banjir,” kata Andi (32), Pekerja Swasta di Batam.
“Jujur awalnya karena penasaran pengen coba di Batam. Lapangannya aesthetic banget buat konten, tapi setelah main ternyata emang nagih karena seru banget main bareng-bareng,” ucap Maya (27), warga lainnya.
Sementara itu, Budi (45) warga penggemar tenis menganggap ini sebatas lifestyle. “Saya melihatnya sebagai pelengkap. Padel ini bagus buat melatih refleks. Tapi kalau dibilang bakal menggantikan tenis, kayaknya tidak. Padel lebih ke arah gaya hidup dan komunitas,” ucapnya
Siska (24), Mahasiswi di Batam mengaku menikmati aktivitas ini. “Seru sih, cuma kalau buat kantong mahasiswa, harganya lumayan terasa kalau sering-sering. Harus pintar-pintar cari teman buat patungan sewa lapangan supaya ringan,” akunya.
Sorotan Isu Money Laundering
Di tengah antusiasme warga, terselip isu miring yang mulai diperbincangkan di kalangan terbatas. Biaya investasi lapangan padel yang fantastis mencapai angka miliaran rupiah per lapangan memicu spekulasi liar mengenai sumber dana pembangunan fasilitas-fasilitas mewah tersebut.







