Pada 1970, bersama istri dan anaknya, Bustaman memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Di sana, ia ikut adik iparnya dan tinggal di daerah Matraman, Jakarta Pusat. Untuk permulaannya, ia memutuskan untuk berdagang rokok di pinggir jalan menggunakan gerobak.
Namun, masalah pun mulai menghampirinya. Di lingkungan barunya itu, ada keributan antara orang Minang dan preman setempat, hingga menyebabkan ia dan keluarga harus pindah ke daerah Pejompongan. Akibat dari kepindahannya, penghasilannya mulai turun drastis. Kondisi tersebut memaksanya untuk berpikir bagaimana caranya dapat penghasilan lebih.
Akhirnya, ia terpikir untuk mengembangan usaha warung makan. Berbekal pengalaman kerjanya sebelumnya di warung makan, Bustamam pun memutuskan untuk menyewa lahan satu kali satu meter dengan harga Rp 3 ribu untuk membangun warungnya itu.
Meski pada awalnya tidak bisa masak, Bustamam mencoba untuk belajar. Tak hanya masalah kemampuan memasak, ternyata setelah dijalani omzetnya sangat jauh di bawah modal yang dikeluarkan. Sialnya lagi, hasil dagangan malah dibawa lari oleh pembantu barunya.
Belajar dari kegagalan pertamanya itu, Bustamam tak putus asa dan terus konsisten berusaha mendirikan kembali rumah makannya. Dia pun mencari tukang masak yang bisa dipercaya. Di sinilah titik balik hidupnya. Jualannya laku keras dan diminati banyak orang.













