Keterbatasan armada ambulans membuat pihak kepolisian mengambil langkah darurat. Mobil-mobil patroli polisi berubah fungsi menjadi kendaraan evakuasi. Dengan sirine yang meraung, aparat kepolisian bolak-balik menjemput anak-anak dan warga dari Desa Air Asuk serta Desa Air Sena menuju rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Anambas, Feri Oktavia, menyebutkan bahwa dari total korban, 112 orang dilarikan ke RSUD Palmatak, sementara 41 lainnya menjalani perawatan intensif di Puskesmas Siantan Tengah.
“Bahkan ada orang dewasa yang ikut menjadi korban. Mereka mengonsumsi makanan bergizi gratis milik cucunya,” terang Feri saat menjelaskan luasnya dampak kejadian ini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Anambas, Sahtiar, tampak hadir di tengah kerumunan pasien. Ia mencoba menenangkan para orang tua dan berbincang dengan anak-anak yang tengah berjuang melawan rasa mual dan pusing akibat keracunan tersebut. Kehadirannya memberikan sedikit ketenangan di tengah situasi rumah sakit yang sempat mencekam.
Hingga Rabu malam, kabar baik perlahan muncul. Dinas Kesehatan memastikan tidak ada korban fatal dalam tragedi ini. Sebanyak 30 pasien bahkan sudah diizinkan pulang untuk menjalani rawat jalan.
Meski kondisi mulai stabil, kisah dari RSUD Palmatak hari ini menjadi catatan kelam bagi pelaksanaan program makan gratis di daerah. Publik kini menunggu jawaban dari investigasi laboratorium; mengapa makanan yang seharusnya memberi kekuatan, justru membuat anak-anak Anambas harus berbagi ranjang di rumah sakit.














