harris
NatunaZona Headline

Ketika Opini Lebih Keras dari Data, SiLPA Natuna Jadi Korban

114
×

Ketika Opini Lebih Keras dari Data, SiLPA Natuna Jadi Korban

Share this article
Kuasa Hukum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna Muhajirin.
banner 468x60

Estimasi tersebut merupakan asumsi posisi kas per 31 Desember 2024 yang mencakup Rekening Kas Umum Daerah, rekening BLUD, BOS, serta FKTP (Puskesmas). Namun realisasi kas daerah berubah signifikan karena Pemerintah Pusat tidak menyalurkan kurang bayar Dana Bagi Hasil Tahun 2023 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 89 Tahun 2025.

BACA JUGA:  Protes Keras di Hang Nadim! Penumpang NAM Air Natuna Tuntut Hak Makan Malam dan Snack

Suryanto juga menegaskan bahwa data APBD yang ditampilkan pada portal djpk.kemenkeu.go.id merupakan data APBD murni sebelum efisiensi dan belum diperbarui berdasarkan perubahan peraturan kepala daerah maupun perubahan APBD.

Muhajirin menilai, kegaduhan publik justru muncul ketika data perencanaan diposisikan sebagai kesimpulan akhir. Padahal, dalam tata kelola keuangan daerah, angka perencanaan, realisasi, dan hasil audit merupakan tahapan yang berbeda dan tidak bisa disamakan.

BACA JUGA:  Tiga Pekan Diselimuti Kabut Asap Karhutla Kalimantan, Sekolah di Serasan Natuna Meliburkan Siswa dan 52 Warga Kena ISPA

“Ketika opini lebih keras dari data, yang menjadi korban bukan hanya angka, tapi juga kepercayaan publik,” tegasnya.

Ia mengimbau media untuk mengedepankan prinsip verifikasi lintas sumber dan menggunakan data keuangan yang telah final serta diaudit sebelum mempublikasikan informasi ke publik.

Pemerintah Kabupaten Natuna, lanjut Muhajirin, tetap berkomitmen menjalankan pengelolaan keuangan daerah secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BACA JUGA:  Pesawat 'Mogok' di Batam, Penerbangan NAM Air Rute Natuna Bikin Emosi Penumpang