“Itu sopirnya yang nggak memberikan segitiga pengaman dari jarak 10 meter. Jarak pandang di bawah jembatan dari mobil saya cuma 3 meter. Supir gila itu,” tegasnya.
Keluhan mengenai minimnya penerangan jalan di kawasan Tembesi menuju Batu Aji juga mencuat. Netizen berinisial Sara menyoroti kombinasi antara kurangnya lampu jalan dan perilaku berkendara ugal-ugalan sebagai pemicu kecelakaan berulang di wilayah tersebut.
Seorang warga lain menjelaskan secara teknis mengapa posisi lori tersebut sangat mematikan: “Percayalah, dari arah Muka Kuning lari 60 km/jam, kondisi jalan agak menikung dan menanjak sedikit, di situ nggak akan nampak ada mobil mogok. Pasti kaget,” tulisnya.
Para saksi mata digital ini mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kelalaian sopir lori yang hanya meletakkan dahan pohon (daun-daun) sebagai penanda darurat di jalur cepat.
Kecelakaan tragis ini mengakibatkan pengendara motor sport yang mengenakan sweater hitam tewas di tempat dengan luka fatal di bagian kepala. Benturan keras terdengar hingga radius puluhan meter, memicu kerumunan warga yang menyebabkan kemacetan parah dari arah Tembesi menuju Batu Aji.
Satlantas Polresta Barelang telah melakukan olah TKP dan mengamankan kendaraan yang terlibat. Polisi kini tengah mendalami identitas korban serta mencari keberadaan sopir lori guna dimintai pertanggungjawaban terkait dugaan kelalaian prosedur saat kendaraan mogok di jalan raya.













