Pengamat ekonomi Ronny P. Sasmita memang mengungkapkan bahwa investasi memberikan peluang lapangan kerja dan transfer teknologi.
Namun, kenyataannya, masyarakat lokal sering kali kalah bersaing dengan tenaga kerja yang lebih terampil dari luar daerah.
“Apakah masyarakat lokal benar-benar siap untuk bersaing di pasar kerja baru ini? Tanpa pelatihan dan pendampingan yang serius, mereka hanya akan menjadi penonton dalam proyek besar ini,” kata seorang akademisi di Batam yang tidak mau disebutkan namanya.
Dampak Sosial dan Lingkungan yang Terabaikan
Di luar janji-janji ekonomi, proyek besar seperti ini seringkali menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat lokal.
Penggusuran lahan, degradasi lingkungan, hingga potensi konflik sosial menjadi ancaman nyata yang tidak banyak dibahas oleh pihak pengembang.
“Masyarakat yang tinggal di Pulau Rempang terancam kehilangan identitas dan sumber penghidupan tradisional mereka. Apa artinya lapangan kerja baru jika mereka harus meninggalkan rumah dan tanah leluhurnya?” ujar seorang aktivis lingkungan yang memantau perkembangan proyek tersebut.
Narasi Pembangunan untuk Siapa?
Investasi di Pulau Rempang, yang diproyeksikan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, justru berpotensi menciptakan jurang ketimpangan baru.












