Opini

Perhelatan Kenduri Seni Melayu Batam: Lebih dari Sekedar Pesta Rakyat

1
×

Perhelatan Kenduri Seni Melayu Batam: Lebih dari Sekedar Pesta Rakyat

Share this article

Oleh: Buralimar, Pemerhati seni budaya dan pariwisata

Buralimar
banner 468x60

Mempertahankan Warisan, Kebanggaan, serta Kualitas

Tahun 2026 ini, Kenduri Seni Melayu (KSM) Batam memasuki perhelatan ke-27 sejak pertama kali digelar pada 1999. Lahir dari ide cemerlang para seniman Melayu Batam dan Kepulauan Riau, KSM membuktikan diri sebagai salah satu gelaran budaya paling konsisten di tanah air.

Di tengah banyaknya event besar yang hadir semusim lalu menghilang, KSM tetap berdenyut setiap tahun tanpa putus. Konsistensi inilah yang membuat eksistensinya diakui, bukan hanya oleh masyarakat Batam, tetapi juga oleh provinsi-provinsi berakar Melayu serta negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, Brunei, hingga Thailand Selatan.

BACA JUGA:  Penguatan Kapasitas Guru: Kunci Transformasi Pendidikan yang Berkelanjutan

Tema yang diusung tahun ini, “Menyemai Benih Budaya, Memetik Ranggi Peradaban”, bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah filosofi. Seperti menanam padi yang tiap musim harus disemai, dirawat, lalu dipanen, KSM pun ditanam setiap tahun dengan maksud yang sama: menyemai seni budaya Melayu agar tumbuh, menjaga marwah, melestarikan legacy, dan mempertahankan tuah Batam sebagai salah satu tanah Melayu.

BACA JUGA:  Menguap di Depan Kantor Walikota, Cerita Pelajar Batam yang Kehilangan Hari Minggu Demi Aksi MBG

Bagi masyarakat Batam yang majemuk, KSM menjadi laluan silaturahmi budaya serantau. Bagi dunia Melayu yang lebih luas, KSM adalah etalase peradaban yang dijunjung tinggi sejak zaman berzaman.

Ranggi di sini bukan sekadar elok, tampan, atau lawa. Ranggi adalah kebanggaan yang tak diukur dari rasa senang sesaat, melainkan dari ikhtiar menjaga peradaban Melayu agar tetap tegak berdaulat di tengah arus zaman.

BACA JUGA:  Penguatan Kapasitas Guru: Kunci Transformasi Pendidikan yang Berkelanjutan

KSM memang meriah, tetapi ia bukan sekadar pesta rakyat semalam. Ia bukan hanya panggung untuk mempertahankan tradisi dan menghidupkan seni budaya. Tujuan KSM jauh lebih luas: bagaimana sebuah perhelatan yang menyerap anggaran tidak kecil ini mampu mendorong UMKM naik kelas. Dari penjaja kuliner khas Melayu seperti lakse, mie lendir, teh tarik, hingga pengrajin tekat, songket, dan tanjak, semua diberi ruang untuk mengukir rupiah.