KepriOpiniPendidikan

IPLM Kepulauan Riau: Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi

106
×

IPLM Kepulauan Riau: Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi

Share this article

Oleh: Harken, Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau

Harken
banner 468x60

Keenam, evaluasi dan audit independen perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa data IPLM benar-benar mencerminkan kondisi riil, bukan sekadar hasil proses administratif.

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah perubahan cara pandang.

Selama ini, literasi sering dipersepsikan sebagai urusan membaca dan menulis. Padahal, dalam konteks modern, literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Dengan kata lain, literasi adalah fondasi daya saing.

BACA JUGA:  PPDB Batam 2026: Anak Belum Punya KIA Tetap Bisa Daftar Sekolah, Cek Jadwal Lengkap SPMB SD-SMP Disini!

Jika kita gagal membangun literasi, maka kita sedang membangun masyarakat yang renta. Renta terhadap disinformasi, ketimpangan, dan stagnasi.

Dalam perspektif ini, penurunan IPLM bukan sekadar persoalan angka, melainkan peringatan bahwa pembangunan manusia tidak bisa berjalan tanpa fondasi literasi yang kuat.

Sebagaimana ditegaskan oleh Harken: “Literasi adalah perubahan perilaku menuju arah masa depan bukan sekadar indikator, Jika salah membaca data, maka kita juga akan salah menentukan arah kebijakan.”

BACA JUGA:  Polda Kepri Warning Pengusaha Besi Tua: Jangan Terima Material Hasil Pencurian Fasum!

Perubahan instrumen pengukuran melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 7 Tahun 2025 adalah langkah maju yang menuntut adaptasi dari seluruh pemangku kepentingan.

Tantangan utama saat ini bukan rendahnya angka, melainkan kemampuan untuk memahami dan merespons perubahan tersebut secara tepat. Literasi harus dipandang sebagai fondasi pembangunan manusia, bukan sekadar indikator administratif.