Gudangberita.co.id – Nama Danke Rajagukguk awalnya adalah simbol pendobrak tradisi di Tanah Karo. Sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo, ia memikul ekspektasi tinggi sebagai “Srikandi Hukum”.
Namun, belum genap satu tahun menjabat, narasi prestasi itu kini berubah menjadi tanda tanya besar: Apakah ia simbol kemajuan atau justru produk gagal dalam sistem promosi korps Adhyaksa?
Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menarik Danke ke Jakarta pada Minggu (5/4/2026) untuk menjalani pemeriksaan intensif terkait dugaan pelanggaran etik berat.
Melihat ke belakang, profil Danke sebenarnya nyaris tanpa cela. Ia adalah “orang dalam” pusat yang pernah bertugas di Gedung Bundar (JAM Pidsus Kejagung), unit elit yang menangani kasus-kasus korupsi raksasa.
Lulusan Universitas HKBP Nommensen ini merangkak dari bawah sejak 2007, melanglang buana dari Simalungun hingga Subang, sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kejari Karo pada November 2025.
Namun, jam terbang tinggi di pusat ternyata bukan jaminan integritas di daerah. Penanganan kasus video profil desa dengan terdakwa Amsal Sitepu justru menjadi “lubang kubur” bagi kariernya.
Anomali Harta: Pejabat Tinggi dengan Kekayaan Minus











