Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada angka, melainkan pada interpretasi dan kesiapan. Ketika indikator berubah tanpa diiringi pemahaman yang memadai, maka data kehilangan fungsi utamanya sebagai alat evaluasi.
Lebih jauh, kondisi ini berpotensi melahirkan kebijakan yang keliru. Pemerintah daerah bisa saja terjebak pada upaya memperbaiki angka secara administratif, tanpa menyentuh akar persoalan. Program literasi menjadi sekadar formalitas, kehilangan makna sebagai gerakan sosial.
Padahal, literasi tidak pernah lahir dari kebijakan semata. Ia tumbuh dari budaya, dari kebiasaan, dan dari ruang-ruang sosial yang hidup di tengah masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas literasi, dan berbagai inisiatif lokal merupakan aktor utama dalam membangun ekosistem tersebut.
Harken kembali mengingatkan: “Jangan sampai kita sibuk mengejar angka, tetapi lupa membangun ekosistem. Literasi itu bukan proyek jangka pendek, melainkan gerakan jangka panjang. Jika gerakannya tidak hidup, maka angka setinggi apa pun tidak memiliki arti.”
Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bagi para pembuat kebijakan: keberhasilan literasi tidak bisa diukur hanya dari indikator teknis, tetapi dari keberlanjutan gerakan di masyarakat.







