KepriOpiniPendidikan

IPLM Kepulauan Riau: Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi

85
×

IPLM Kepulauan Riau: Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi

Share this article

Oleh: Harken, Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Kepulauan Riau

Harken
banner 468x60

Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada angka, melainkan pada interpretasi dan kesiapan. Ketika indikator berubah tanpa diiringi pemahaman yang memadai, maka data kehilangan fungsi utamanya sebagai alat evaluasi.

Lebih jauh, kondisi ini berpotensi melahirkan kebijakan yang keliru. Pemerintah daerah bisa saja terjebak pada upaya memperbaiki angka secara administratif, tanpa menyentuh akar persoalan. Program literasi menjadi sekadar formalitas, kehilangan makna sebagai gerakan sosial.

BACA JUGA:  Pelajaran Pahit dari Tragedi Barelang: Bahaya Bonceng Tiga yang Renggut Nyawa 3 Pelajar Batam

Padahal, literasi tidak pernah lahir dari kebijakan semata. Ia tumbuh dari budaya, dari kebiasaan, dan dari ruang-ruang sosial yang hidup di tengah masyarakat. Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas literasi, dan berbagai inisiatif lokal merupakan aktor utama dalam membangun ekosistem tersebut.

Harken kembali mengingatkan: “Jangan sampai kita sibuk mengejar angka, tetapi lupa membangun ekosistem. Literasi itu bukan proyek jangka pendek, melainkan gerakan jangka panjang. Jika gerakannya tidak hidup, maka angka setinggi apa pun tidak memiliki arti.”

BACA JUGA:  Geger! Nelayan Anambas Temukan Objek Diduga Bangkai Pesawat China Terapung di Laut

Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bagi para pembuat kebijakan: keberhasilan literasi tidak bisa diukur hanya dari indikator teknis, tetapi dari keberlanjutan gerakan di masyarakat.