Gudangberita.co.id, Batam – Penangkapan 40,4 ton beras ilegal di Pelabuhan Tanjung Sengkuang pada Senin malam (24/11/2025) membuka kembali satu fakta lama yang kerap diabaikan: kawasan perdagangan bebas Batam (FTZ) masih menyimpan banyak lubang yang dimanfaatkan penyelundup.
Kali ini, lubang itu ditutup langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Kapal pembawa beras bahkan belum selesai merapat ketika aparat gabungan sudah menyergap muatannya—sebuah penindakan yang menunjukkan betapa cepatnya jaringan ilegal ini bergerak, dan betapa lebih cepat lagi respons pemerintah kali ini.
Barang ilegal yang dibawa tidak main-main: beras, gula, minyak goreng, tepung, susu, parfum, mie impor, hingga frozen food. Semua dicampur dalam satu jalur masuk—sebuah pola klasik penyelundupan multi-komoditas.
Amran menegaskan bahwa FTZ tidak pernah dimaksudkan sebagai wilayah “sembarang masuk”. Penyusupan beras justru dianggap ancaman strategis karena dapat merusak harga, produkisi, dan mental 115 juta petani.
“Ini bukan soal 40 tonnya. Ini soal psikologi petani dan harga diri bangsa,” katanya.
Kasus ini tidak akan berhenti pada penyitaan. Pemerintah menelusuri dalang di balik pemanfaatan celah FTZ ini—lubang yang selama bertahun-tahun jadi “jalan belakang” bagi barang-barang pangan ilegal.












