“Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya. Inilah yang ingin kita hadirkan melalui Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan,” tegas Amsakar.
Sebagai penyelaras nama besar tokoh sejarah yang disematkan, tugu pada bundaran ini didesain sarat makna dan filosofi budaya Melayu yang agung:
Desain Tanjak: Struktur tugu mengadopsi bentuk penutup kepala tradisional Melayu, melambangkan kehormatan, kewibawaan, serta penegasan jati diri masyarakat tempatan di tengah kemajuan zaman.
Desain Tepak Sirih: Unsur kebudayaan ini dihadirkan secara visual sebagai simbol penyambutan tamu, yang mencerminkan kehangatan, keterbukaan, dan keramahan masyarakat Batam dalam menyambut wisatawan maupun investor.
Pembangunan ini sekaligus menjadi motor penggerak gerakan “Batam Asri”, menyelaraskan instruksi Presiden RI agar estetika kota dirawat dengan baik, indah, tertata, serta bebas dari kesan semrawut.
Hal yang tidak kalah menarik dari megaproyek penataan wajah kota ini adalah efisiensi anggarannya. Pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V ini murni berjalan atas kolaborasi BP Batam dengan dunia usaha melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) PT Uma Graha Berkah.













