Presiden Prabowo sendiri sebelumnya sempat menanggapi kritik terkait intensitas perjalanannya ke luar negeri. Ia menekankan bahwa diplomasi energi adalah alasan utama di balik kunjungan-kunjungan tersebut.
“Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri… Saudara-saudara, untuk amankan minyak ya gue harus ke mana-mana,” tegas Presiden dalam rapat kabinet beberapa waktu lalu.
Selain urusan impor minyak mentah, agenda di Rusia juga diprediksi akan menyentuh kelanjutan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Proyek ini melibatkan raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, yang bekerja sama dengan Pertamina.
Meski progresnya sempat dinilai lambat, Bahlil mengisyaratkan adanya pembahasan tingkat tinggi (follow up) untuk mempercepat pengembangan kilang tersebut. Skema kerja sama yang bersifat Business to Business (B2B) diharapkan mendapat dukungan kebijakan dari kedua kepala negara agar ketahanan energi nasional lebih mandiri.












