Gudangberita.co.id – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga memperlambat proses perekrutan tenaga kerja baru. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut dan membuat peluang mendapatkan pekerjaan semakin sempit, terutama bagi pencari kerja.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menilai perlambatan rekrutmen dan PHK yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan adopsi teknologi AI yang semakin masif di dunia usaha.
“AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar,” ujar Kashkari, dikutip dari CNBC Internasional, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, perusahaan berskala besar menjadi pihak yang paling merasakan dampak transformasi digital berbasis AI, baik dalam efisiensi operasional maupun kebijakan sumber daya manusia. Sementara itu, dampak perlambatan perekrutan dinilai tidak terlalu terlihat di perusahaan kecil.
Kashkari memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja yang ditandai dengan tingkat perekrutan rendah dan PHK masih akan berlanjut dalam waktu ke depan. Situasi ini membuat persaingan mendapatkan pekerjaan baru semakin ketat, terutama bagi mereka yang terdampak PHK sebelumnya.
Penggunaan AI secara luas mulai terasa sejak kehadiran ChatGPT milik OpenAI pada 2022, yang langsung mendapat respons besar dari dunia bisnis global. Sejak saat itu, banyak perusahaan mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan produktivitas, otomatisasi pekerjaan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.













