Gudangberita.co.id – Krisis di Selat Hormuz kini memasuki fase paling mengkhawatirkan. Ancaman Iran untuk membakar kapal yang melintas tidak hanya bisa melambungkan harga minyak dunia ke angka fantastis US$200, tetapi juga membawa ancaman nyata bagi ketersediaan Elpiji (LPG) di Indonesia.
Pakar energi memperingatkan bahwa gangguan pada jalur pelayaran krusial ini bisa memicu kekosongan stok LPG nasional yang dampaknya jauh lebih mengerikan dibandingkan kelangkaan BBM.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengungkapkan data mengejutkan terkait ketahanan energi nasional. Dari total konsumsi LPG dalam negeri sebesar 9 juta metrik ton per tahun, Indonesia hanya mampu memproduksi 1,8 juta metrik ton di dalam negeri.
Artinya, sebanyak 7,2 juta metrik ton atau sekitar 80% kebutuhan gas rumah tangga sangat bergantung pada impor. Tragisnya, dua sumber utama impor Indonesia kini berada di pusaran konflik.
“Sekitar 52% impor LPG kita berasal dari Amerika Serikat dan 48% dari Timur Tengah. Saat ini, kedua wilayah tersebut sedang terlibat eskalasi konflik yang sangat serius,” ujar Komaidi, Selasa (3/3/2026) via CNBC Indonesia.
Komaidi mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada stok BBM. Menurutnya, kelangkaan LPG memiliki risiko sosial yang jauh lebih besar karena berkaitan dengan kebutuhan dasar hidup, yaitu memasak.











