Gudangberita.co.id – Dunia kini berada di ambang krisis energi hebat. Keputusan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, diprediksi akan memicu guncangan ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Penutupan jalur laut paling krusial di dunia ini mengancam pasokan 20% minyak dunia dan 30% pasokan LNG global. Para pakar ekonomi memperingatkan bahwa dampaknya akan segera terasa di kantong masyarakat, termasuk di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak ke level US$100 hingga US$120 per barel. Padahal, dalam satu bulan terakhir saja, harga minyak sudah merangkak naik sekitar 13,4%.
“Selat Hormuz yang terganggu akan memengaruhi 20% pasokan minyak dunia. Situasi diperburuk oleh risiko keamanan, termasuk penolakan asuransi bagi kapal logistik, yang menghambat distribusi energi global,” ujar Bhima, Senin (2/3/2026) via CNBC Indonesia.
Dampak Ngeri bagi APBN 2026 dan RupiahSebagai negara net importir minyak, Indonesia berada di posisi rentan. Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi dapat menambah beban belanja negara hingga Rp10,3 triliun.









