“Kalau sampai LPG tidak ada, rush (panic buying) akan lebih besar dibandingkan BBM. Kalau BBM, kita masih bisa siasati dengan mengurangi bepergian. Tapi kalau urusan dapur, tidak bisa ditunda,” tambahnya.
Ketegangan memuncak setelah Iran secara resmi menutup Selat Hormuz menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei dalam serangan militer AS-Israel bertajuk ‘Operation Epic Fury’.
Ebrahim Jabari, penasihat senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), mengeluarkan peringatan keras bahwa militer Iran siap menghanguskan kapal apa pun yang nekat melintasi selat tersebut. Tidak hanya itu, Iran mengancam akan menghancurkan pipa-pipa minyak di kawasan Teluk.
“Kami tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang,” tegas Jabari dalam keterangannya, Selasa (3/3).
Dengan posisi Indonesia sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan energi global, pemerintah didorong untuk segera mencari sumber alternatif di luar wilayah konflik dan memperkuat stok cadangan energi nasional guna menghindari krisis sosial akibat kelangkaan gas melon dan LPG nonsubsidi di tengah masyarakat.











