Belakangan ini, ia lantang menyoroti penimbunan Daerah Aliran Sungai (DAS) dekat Apartemen Baloi, hingga aksi cut and fill yang merugikan petani di Teluk Mata Ikan, Nongsa. Ia juga sempat bersitegang dengan satpam Bank Indonesia hanya karena menukar uang receh—semua kisah ini ia viralkan demi mengungkap ketidakadilan.
Namun, keberaniannya sering kali berujung ancaman. Pada pertengahan April lalu, mobil Yusril ditemukan bannya ditusuk pisau oleh orang tak dikenal. Ia juga kerap menerima teror verbal di media sosial. Meski demikian, Yusril tak gentar. Ia percaya, “tanpa viral, tidak ada keadilan”.
Insiden yang Membawanya ke Meja Hijau
Kasus terbaru yang menyeret Yusril bermula dari sebuah video yang memperlihatkan perdebatan panas antara dirinya dan seorang anggota Provost Satpol PP, Boedi. Dalam video yang ditonton 2,4 juta kali itu, Yusril mengkritik sikap Boedi yang dinilainya tidak mendukung tugas penertiban PKL sesuai aturan.
Ironisnya, penertiban PKL itu justru permintaan Yusril sendiri karena merasa terganggu aktivitas usahanya. Namun perdebatan tersebut berujung panjang, hingga Boedi memilih jalur hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Di kalangan warga, Yusril dikenal sebagai sosok yang berani memperjuangkan suara rakyat kecil. Namun, keberaniannya kerap menuai kontroversi. Ada yang mengagumi perjuangannya, tak sedikit pula yang merasa terganggu oleh aksinya yang meledak-ledak.











