BatamPeristiwaZona Headline

Teror Buaya di Batam Usai Penangkaran Pulau Bulan Jebol: Nelayan Takut Melaut, Warga Panik

1202
×

Teror Buaya di Batam Usai Penangkaran Pulau Bulan Jebol: Nelayan Takut Melaut, Warga Panik

Share this article
Nelayan Pulau Buluh yang tergabung di HNSI Kota Batam berhasil menangkap seekor buaya yang lepas di Perairan Pulau Buluh, Senin (13/1/2025) malam (tangkapan layar)
banner 468x60

“Nelayan tidak berani melaut karena takut serangan buaya. Akibatnya, banyak yang kehilangan penghasilan harian,” ujar Muslimin, Selasa (14/1/2025).

Selain itu, HNSI tengah mempersiapkan langkah hukum bersama penasihat hukum PERADI Kota Batam untuk menuntut pertanggungjawaban perusahaan.

Tokoh masyarakat Melayu Pulau Labu, Amir, juga mengimbau warga sekitar Pulau Bulan untuk meningkatkan kewaspadaan.

BACA JUGA:  Dua Kali Rukyah Jembatan I Barelang, Ustaz Candra: Alhamdulillah Beberapa Kali Aksi Nekat Selalu Selamat atau Digagalkan Petugas

“Amir tokoh melayu di Pulau Labu meminta warga waspada. “Saya Pak Amir tokoh Melayu Pulau Labu meminta kepada tokoh Melayu Pulau Air, Pulau Seraya, Pulau Temoyong, Pulau Aweng, Pulau Selat Nenek, P Cengkui, Pulau Jaloh, Pulau Pecung, Pulau Lintang, Pulau Kebam, Pulau Buluh dan pulau sekitar, saya minta dengan kawan-kawan, kita minta PT di Pulau Bulan harus bertanggung jawab karena sudah buat masyarakat resah dan takut untuk kerja nelayan,” ujarnya di media sosial.

BACA JUGA:  Polda Kepri Tetapkan 3 Tersangka Bentrok Sengketa Lahan di Pulau Setokok Batam

Aparat kepolisian bersama pihak BBKSDA Riau terus melakukan patroli malam untuk memastikan keselamatan warga dan menangkap dua ekor buaya yang masih berkeliaran.

Pulau Bulan: Pusat Penangkaran dengan 800 Buaya

Pulau Bulan dikenal sebagai lokasi penangkaran buaya yang dikelola oleh PT Perkasa Jagat Kurnia (PJK). Insiden ini menambah kekhawatiran terhadap pengelolaan fasilitas yang menampung sekitar 800 ekor buaya tersebut.

BACA JUGA:  Dituduh Selingkuh dengan Istri Orang, Pria di Bengkong Batam Diberondong Sajam hingga Kritis