“Kami hanya ingin keadilan. Masa kerja panjang kami tidak dihargai. Kami tak tahu harus berharap ke siapa lagi,” ujar salah satu guru dengan mata berkaca-kaca.
Rencana Perjuangan ke DPR RI
Meski pulang dengan hati hancur, para guru honorer tak berniat menyerah. Mereka merencanakan langkah lebih jauh dengan membawa permasalahan ini ke tingkat DPR RI.
“Kami akan audiensi ke Jakarta. Kami ingin suara kami didengar. Belasan tahun mengabdi tidak bisa begitu saja diabaikan,” kata Maryuliansyah dengan nada tegas.
Di tengah semua hiruk-pikuk ini, satu hal yang terasa begitu ironis adalah bagaimana profesi guru—yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa—sering kali menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak.
Kesah guru honorer di DPRD Batam adalah simbol dari pengabdian panjang yang tak dihargai, janji-janji yang tak terpenuhi, dan sistem yang tak memberikan tempat bagi mereka yang telah bertahun-tahun mencurahkan tenaga dan waktu demi pendidikan generasi bangsa.
Namun, harapan masih ada. Perjuangan para guru ini bukan hanya soal nasib mereka, tetapi juga soal bagaimana bangsa ini memandang dan menghargai pengabdian. Mereka yang mengajar dengan hati tidak seharusnya diabaikan.













