Cerita Pilu dari Belakang Padang
Kisah paling menyayat hati datang dari seorang guru SD di Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang. Selama 19 tahun, ia setia mengarungi laut dengan perahu pancung demi mengajar anak-anak di daerah terpencil. Namun, pengabdian panjang itu tak cukup untuk mengantarnya lolos seleksi PPPK.
Yusril Koto, aktivis pendidikan yang hadir dalam RDP, mengungkapkan kekecewaannya. “Ini guru yang mengabdi puluhan tahun, naik pancung setiap hari, tapi kalah dengan guru yang baru dua tahun. Ada yang salah dengan sistem ini,” tegasnya.
Ia juga menduga adanya indikasi manipulasi dalam proses seleksi. “Sistem ini tidak transparan. Guru-guru ini korban, dan kami menduga ada kongkalikong dalam entri data seleksi,” ujarnya.
Harapan yang Pudar di Ruang Dewan
Rapat dengar pendapat yang digelar hari itu tidak menghasilkan solusi konkret. Komisi IV DPRD Batam, yang diharapkan menjadi jembatan aspirasi, dianggap hanya melempar tanggung jawab ke pusat.
“Apa fungsi pengawasan mereka kalau semua masalah dilempar ke BKN? Ada dinas pendidikan dan BKSD daerah, tapi semuanya bungkam,” ujar Yusril.
Tri Wahyu Rubianto, Kepala Dinas Pendidikan Batam, mencoba memberikan penjelasan. Ia menyebut seleksi PPPK dilakukan secara elektronik dan hasilnya murni berdasarkan sistem scoring dari BKN. Namun, bagi para guru, penjelasan itu tak mampu menghapus kekecewaan.













