Gudangberita.co.id, Batam — Ketegangan akibat persoalan lahan di Pulau Rempang kembali mengemuka. Warga Pantai Melayu mengaku resah dan tertekan akibat kehadiran Tim Terpadu yang terus melakukan pengawasan di kawasan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih, bahkan pada hari libur nasional memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Selasa (25/8/2026).
Adu mulut sempat pecah di lokasi antara warga dan petugas. Warga menilai armada gabungan yang terdiri dari kepolisian, Ditpam, Satpol PP, hingga organisasi masyarakat sipil tersebut menciptakan suasana intimidatif hingga mengganggu mata pencaharian harian mereka.
Menurut pengakuan warga, sekitar 30 personel berada di lokasi dengan menyiagakan truk Satpol PP, truk Ditpam, kendaraan pribadi, hingga armada mitigasi kebakaran hutan. Beberapa personel juga dikabarkan berada di sekitar area semak-semak dan lembah.
Kehadiran personel keamanan setiap hari membuat warga Pantai Melayu harus bersiaga penuh menjaga kampung.
“Kami sangat ketakutan. Kami sudah tidak bisa lagi mencari nafkah karena harus menjaga kampung setiap hari. Masyarakat Pantai Melayu seperti teroris dibuat oleh pemerintah,” ujar Kamsiah, salah seorang warga Pantai Melayu.
Pasca-insiden adu mulut, warga menggelar orasi untuk meminta dukungan dari masyarakat adat secara luas. Mereka mendesak pemerintah menghentikan tindakan yang memicu rasa takut dan mengedepankan dialog adil untuk menyelesaikan sengketa lahan.













