BatamKomunitas

Fesmed Selat Malaka 2026: Hadapi Gempuran Hoaks Visual dan AI, PFI Tekankan Pentingnya Etika Foto Jurnalistik

7
×

Fesmed Selat Malaka 2026: Hadapi Gempuran Hoaks Visual dan AI, PFI Tekankan Pentingnya Etika Foto Jurnalistik

Share this article
Hendra Syamhari Korwil Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera membawakan materi bertajuk "Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalistik Sebagai Literasi Publik".
Hendra Syamhari Korwil Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera membawakan materi bertajuk "Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalistik Sebagai Literasi Publik".
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) menjadi salah satu tantangan bagi pewarta foto saat ini. Isu tersebut dibahas dalam salah satu lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Batam.

Kegiatan yang digelar di Ruang Rapat TA 9.4 Lantai 9, Gedung Tower A, Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026), ini diikuti oleh 29 peserta dari kalangan umum, termasuk kreator konten dan jurnalis.

BACA JUGA:  Semarak Kemerdekaan RI ke-81, First Club Tebar 1.000 Paket Sembako Bagi Warga dan Ojol

Lokakarya ini dimoderatori oleh Fara Verwey dari AJI Tanjungpinang. 

Sementara itu, Hendra Syamhari selaku Koordinator Wilayah (Korwil) Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera dan M. Noor Kanwa selaku fotografer lepas (freelance) hadir sebagai narasumber.

Dalam lokakarya tersebut, Hendra membawakan materi bertajuk “Kejujuran Visual di Era Serba Digital: Tantangan Foto Jurnalistik Sebagai Literasi Publik”. Adapun Kanwa membawakan materi bertajuk “Etika Penggunaan AI dalam Foto Jurnalistik”.

BACA JUGA:  Diskusi Publik Fesmed Selat Malaka: TPPO Bukan Soal Pekerja Migran Saja

Dalam pemaparannya, Hendra menyebutkan bahwa fotografer jurnalistik memegang teguh etika dalam menjalankan tugasnya. Etika tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan dari hoaks visual.

“Sebuah foto disajikan secara jujur dan transparan sehingga publik dapat memahami suatu peristiwa secara utuh tanpa dimanipulasi,” kata Hendra.