Menurut Purbaya, peredaran rokok ilegal tak hanya menggerus penerimaan negara, tapi juga mematikan pabrik-pabrik rokok lokal yang selama ini menjadi penyumbang triliunan rupiah melalui cukai.
Untuk merumuskan langkah penyelamatan, Purbaya berencana turun langsung ke Jawa Timur, pusat industri rokok nasional, guna mendengar aspirasi pengusaha dan pekerja rokok.
“Industri ini sudah menyumbang triliunan rupiah lewat cukai, tentu harus kita jaga,” ujarnya.
Dilema Cukai vs Kesehatan
Industri rokok kini berada di persimpangan: antara target pengendalian konsumsi demi kesehatan publik dan perlindungan ekonomi jutaan pekerja.
Langkah Purbaya mengejar “asap-asap nakal” diharapkan mampu membersihkan pasar dari rokok ilegal, sekaligus membuka ruang dialog baru soal keseimbangan tarif cukai.
Dengan janji untuk menindak tegas pelaku rokok palsu dan mempertimbangkan kelangsungan industri, pemerintah kini ditunggu aksi nyata: apakah tarif cukai akan dikaji ulang, atau fokus utama tetap pada membabat rokok ilegal yang bikin pasar “sesak napas”.












