Gudangberita.co.id, Batam – Suara keluhan keras datang dari Teluk Mata Ikan Atas, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Petani dan pembudidaya ikan air tawar di kawasan itu mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah akibat aktivitas cut and fill brutal yang dilakukan di dekat lahan mereka.
Rahmat, salah satu pembudidaya ikan air tawar, menuturkan bahwa sebanyak dua belas kolam budidaya milik kelompoknya kini rusak berat. Lumpur dari kegiatan cut and fill menimbun kolam-kolam ikan yang sudah mereka kelola sejak 2013.
“Kolam yang biasanya sedalam satu meter sekarang penuh lumpur. Ikan-ikan kami mati semua. Kami tidak bisa budidaya lagi. Rugi ratusan juta,” keluh Rahmat dalam video yang diunggah pegiat sosial media Batam, Yusril Koto, Minggu (27/4/2025).

Jenis ikan yang dibudidayakan di area tersebut antara lain Nila, Mujair, Lele, dan Gurame — semua terancam habis akibat banjir lumpur dari proyek galian tanah.
Tidak hanya petani ikan, para petani kebun juga terkena imbas. Suwena, petani sayuran yang sudah sembilan tahun berkebun di lokasi tersebut, mengaku sumber air untuk irigasi kebunnya kini penuh lumpur.
“Saat kami protes ke pekerja di lapangan, mereka malah tantang kami untuk lapor. Seperti tidak peduli,” ujar Suwena.












