BatamLingkunganZona Headline

Petani dan Pembudidaya Ikan di Nongsa Batam Teriak Rugi Ratusan Juta Akibat Cut and Fill Brutal

1236
×

Petani dan Pembudidaya Ikan di Nongsa Batam Teriak Rugi Ratusan Juta Akibat Cut and Fill Brutal

Share this article
Pembudidaya ikan air tawar di Teluk Mata Ikan Atas, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam merana akibat aktvitas cut and fill pembangunan resort. Kolam mereka tertimbun lumpur. (Foto: dok. Gudangberita)
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam – Suara keluhan keras datang dari Teluk Mata Ikan Atas, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Petani dan pembudidaya ikan air tawar di kawasan itu mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah akibat aktivitas cut and fill brutal yang dilakukan di dekat lahan mereka.

Rahmat, salah satu pembudidaya ikan air tawar, menuturkan bahwa sebanyak dua belas kolam budidaya milik kelompoknya kini rusak berat. Lumpur dari kegiatan cut and fill menimbun kolam-kolam ikan yang sudah mereka kelola sejak 2013.

BACA JUGA:  Nekat Gasak 19 Kusen Alumunium Perumahan di Karimun, Maling Spesialis Rumah Kosong Diciduk Warga

“Kolam yang biasanya sedalam satu meter sekarang penuh lumpur. Ikan-ikan kami mati semua. Kami tidak bisa budidaya lagi. Rugi ratusan juta,” keluh Rahmat dalam video yang diunggah pegiat sosial media Batam, Yusril Koto, Minggu (27/4/2025).

Pembudidaya ikan air tawar di Teluk Mata Ikan Atas, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam merana akibat aktvitas cut and fill pembangunan resort. Kolam mereka tertimbun lumpur. (Foto: dok. Gudangberita)

Jenis ikan yang dibudidayakan di area tersebut antara lain Nila, Mujair, Lele, dan Gurame — semua terancam habis akibat banjir lumpur dari proyek galian tanah.

BACA JUGA:  Remaja 13 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Pantai Golden Beach Batam

Tidak hanya petani ikan, para petani kebun juga terkena imbas. Suwena, petani sayuran yang sudah sembilan tahun berkebun di lokasi tersebut, mengaku sumber air untuk irigasi kebunnya kini penuh lumpur.

“Saat kami protes ke pekerja di lapangan, mereka malah tantang kami untuk lapor. Seperti tidak peduli,” ujar Suwena.