Meski status telah berubah, komunikasi di antara keduanya tidak pernah benar-benar putus. Hingga pada Minggu, 24 Mei 2026, sebuah kesepakatan dibuat. Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah hotel di kawasan Muara Enim.
Ayu tiba lebih dulu, memesan kamar seolah sedang menyiapkan panggung untuk reuni yang mendebarkan. MAP baru menginjakkan kaki di kamar tersebut menjelang subuh, sekitar pukul 04.30 WIB. Di dalam ruang tertutup itu, mereka sempat memutar kembali memori masa lalu, larut dalam kehangatan yang intim hingga melakukan hubungan badan sebanyak empat kali.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali di kamar hotel itu ternyata menyimpan bom waktu.
Sebuah iPhone, Gengsi, dan 10 Menit yang Mematikan
Petaka itu datang menjelang sore. Kamar hotel yang tadinya hangat mendadak berubah dingin oleh kepulan emosi. Ayu meminta MAP untuk membelikannya sebuah ponsel baru, sebuah iPhone.
Bagi MAP, permintaan itu bukan sekadar perkara nominal uang, melainkan tamparan pada harga dirinya. Rasa sakit hati yang selama ini terpendam, karena wanita yang dicintainya kini menjadi milik orang lain—mendadak membuncah.
“Kenapa tidak meminta dibelikan oleh suamimu saja?”
Kalimat itu terlontar dari mulut MAP, penuh dengan sarkasme dan luka lama yang menganga. Percekcokan hebat tak terhindarkan. Ego dan amarah membutakan akal sehat pria berusia 33 tahun tersebut.








