Dalam puncak murkanya, MAP menyerang Ayu.
Tubuh mungil Ayu ditindih, lehernya dicekik kuat-kuat. Selama sepuluh menit yang panjang dan mengerikan, Ayu berjuang bernapas di bawah tekanan pria yang pernah dicintainya. Hingga akhirnya, tubuh Ayu melemas, detak jantungnya berhenti, dan ia meregang nyawa di atas kasur hotel tempat mereka memadu kasih beberapa jam sebelumnya.
Siasat Dingin di Keheningan Malam
Melihat Ayu tak lagi bernyawa, MAP tidak langsung panik. Dengan dingin, ia meninggalkan hotel dan pulang ke rumahnya, membiarkan jasad mantan kekasihnya terbujur kaku sendirian.
Keesokan harinya, Senin, 25 Mei 2026, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari—saat kota sedang terlelap, MAP kembali ke hotel dengan rencana yang telah matang untuk menghapus jejak dosanya.
Bagai seorang profesional, ia membungkus jasad Ayu dengan sprei dan selimut hotel. Tubuh kaku itu sempat dimasukkannya ke dalam ember kamar mandi agar mudah dipindahkan. Dengan mengendarai mobil Honda Brio warna merah miliknya, MAP membawa jasad Ayu membelah malam menuju Jembatan Enim III.
Di sanalah, di tepi sungai yang sunyi, MAP menumpuk potongan kayu di atas tubuh Ayu yang masih terbungkus kain hotel. Ia menyiramkan satu botol bensin Pertalite yang sudah dibelinya, lalu menyalakan api.








