Pesawat terbang tersebut bertolak dari Hong Kong pada pukul 04.25 Waktu Greenwich.
Pada sekitar jam 09.25 (Waktu Greenwich), para awak pesawat mendengar adanya ledakan; kepulan asap pun lekas merambat dari letupan api di sayap kanan pesawat menuju kabin.
Sewaktu mendengar ledakan tersebut dan melihat lampu peringatan kebakaran untuk ruangan bagasi secara terpisah terus menyala, pilot pesawat mematikan salah satu di antara mesin bertenaga penggerak (engine) pesawat dan baling-baling pesawat diayunkan lantaran dikhawatirkan mesin bertenaga penggerak pesawat akan terbakar.

Atas keputusan tersebut, tinggal lah tiga mesin bertenaga penggerak di pesawat tersebut yang kerja mesinnya masih berjalan. Para awak pesawat memberi kabar tanda marabahaya ke mana-mana sampai tiga kali agar tempat keberadaan mereka yang berhampiran dengan Kepulauan Natuna dapat terlacak sampai akhirnya radio pesawat mereka tidak bisa hidup lagi.
Pilot mencoba mendaratkan pesawat di atas laut, tetapi tekanan udara di kabin semakin menurun dan pesawat kehilangan arah sehingga sukar harus didaratkan di laut.
Sebagai tambahan, kepulan asap merembes ke dalam ruang pilot. Dengan tiada pilihan apa pun, para awak pesawat mengenakan baju pelampung dan membuka pintu darurat demi menjamin diri mereka untuk lekas menyelamatkan diri di tengah-tengah pesawat yang terus menukik ke laut.
Selanjutnya: Dentaman pesawat













