Pada menit terakhir, Zhou menjadwal ulang perjalanannya dan pesawat itu lepas landas tanpa orang nomor dua pemerintah China saat itu di dalamnya.
Lima jam setelah penerbangan, kru mendengar ledakan keras dan asap memasuki kabin. Api terlihat di belakang mesin sisi kanan. Kapten memutuskan untuk mencoba pendaratan laut. Dia menginstruksikan kru untuk membagikan jaket pelampung dan membuka pintu darurat untuk memungkinkan pelarian cepat ketika pesawat jatuh ke air.
Saat bersentuhan dengan laut, pesawat pecah menjadi tiga bagian dan hanya tiga orang yang selamat. Enam belas orang lainnya tewas.
Yang tewas yakni tiga anggota delegasi Tiongkok untuk KAA, lima jurnalis Tiongkok, satu anggota delegasi Vietnam, satu jurnalis Polandia, dan satu jurnalis Austria.
Sementara tiga orang yang selamat berenang selama 9 jam untuk mencapai pulau tak berpenghuni sampai mereka diselamatkan.
Salah satunya yang selamat kala itu adalah awak pesawat Anant Karnik. Ia akhirnya menulis buku tentang kecelakaan pesawat Kashmir Princess.
Ledakan itu disebabkan oleh bom dengan timer yang diyakini diletakkan di atas pesawat dalam upaya untuk membunuh PM Zhou.
Hanya saja, rencana itu gagal. Zhou yang awalnya dijadwalkan ke Indonesia dengan pesawat itu mengubah keberangkatannya. Zhou Enlai ternyata tak terbang dengan pesawat itu.













