Perubahan itu bukan sekadar nama. Diana di Dabo adalah sosok yang menutup rapat masa lalunya. Bahkan rekan kerjanya tidak tahu asal-usulnya. Satu-satunya penanda identitas yang baru adalah tato bertuliskan nama “Diana” dengan gambar bunga di tangan kanannya—sebuah tanda yang tak pernah dikenali oleh sahabat masa kecilnya di Kijang.
Ironisnya, di tengah upaya “hijrah” selama dua tahun terakhir dengan rajin beribadah di masjid, nyawa Diana justru dihabisi oleh pria yang seharusnya melindunginya.
Rekam Jejak Sang Penjagal
Penelusuran Gudangberita.co.id mengungkap bahwa Diana bukanlah korban pertama dari amarah Jaka yang membabi buta. Jaka adalah seorang residivis dengan pola kejahatan yang serupa.
Istri Pertama (Rina): Tewas mengenaskan di Pantai Batu Berdaun sekitar tahun 2011. Jaka menghabisi nyawanya karena korban menolak ajakan rujuk dan hubungan badan. Dengan sadis, Jaka memukul, mencekik, dan menyiram wajah korban dengan air AC untuk menghilangkan identitas sebelum menutupinya dengan daun kelapa.
Istri Kedua: Berhasil melarikan diri ke Kuala Tungkal karena tak tahan dengan KDRT dan percobaan pencekikan.
Istri Ketiga: Seorang janda asal Subang yang memberinya dua anak. Hubungan ini kandas, dan korban memilih pulang kampung.












