NatunaZona Headline

Jabatan, Nafsu, dan Gadis Remaja PRT: Skandal Camat Pulau Tiga Barat

2032
×

Jabatan, Nafsu, dan Gadis Remaja PRT: Skandal Camat Pulau Tiga Barat

Share this article
Pencabulan. (Foto: ilustrasi)
banner 468x60

Mawar pulang dengan langkah berat ketika gadis itu membuka pintu rumah ibunya di Desa Tanjungkumbik, Kecamatan Pulau Tiga Barat. Selama ini Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah orang paling berkuasa di kecamatan itu: camatnya sendiri.

Ibunya heran. “Tumben pulang jam segini?”

Mawar hanya tertunduk. Diam. Tak menjawab. Raut wajahnya ketakutan. Hingga akhirnya, air matanya pecah. Di hadapan ibunya, Mawar menceritakan sesuatu yang selama berbulan-bulan ia simpan sendiri cerita tentang tubuhnya, tentang ancaman, dan tentang rasa takut yang membuatnya bungkam.

Baca Juga:  Antara Batam dan Denmark: Dua Greenland, Beda Cerita

Cerita itu kemudian sampai ke telinga pamannya, Satar (44), seorang tukang kayu yang bekerja di Ranai, Natuna. Saat dikonfirmasi, Satar mengaku hatinya runtuh saat mendengar pengakuan keponakan yang ia anggap seperti anak sendiri.

“Dia trauma. Takut. Dia bilang tak bisa melawan,” ujar Satar.

Gadis PRT dan Lelaki Berkuasa

Mawar hanyalah remaja biasa. Lahir Desember 2007, ia belum genap 18 tahun saat peristiwa itu terjadi. Karena kondisi ekonomi keluarga, ia bekerja sebagai PRT di rumah JD, Camat Pulau Tiga Barat kala itu.

Baca Juga:  Kasus Asusila PRT di Natuna Jadi Alarm, Penyalur Resmi Dinilai Penting untuk Lindungi Pekerja Rumah Tangga

Ibunya mengizinkan Mawar tinggal di rumah majikannya agar tidak kelelahan bolak-balik bekerja.

Namun rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ruang gelap yang menghancurkan hidupnya.

Kepada pamannya, Mawar mengisahkan awal mula semua itu. Oktober 2025, ia dan JD berboncengan sepeda motor. Di perjalanan, JD bercerita tentang uang hasil penjualan duyok (gurita). Ia bertanya, “Mau uang tak?”