Mawar pulang dengan langkah berat ketika gadis itu membuka pintu rumah ibunya di Desa Tanjungkumbik, Kecamatan Pulau Tiga Barat. Selama ini Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah orang paling berkuasa di kecamatan itu: camatnya sendiri.
Ibunya heran. “Tumben pulang jam segini?”
Mawar hanya tertunduk. Diam. Tak menjawab. Raut wajahnya ketakutan. Hingga akhirnya, air matanya pecah. Di hadapan ibunya, Mawar menceritakan sesuatu yang selama berbulan-bulan ia simpan sendiri cerita tentang tubuhnya, tentang ancaman, dan tentang rasa takut yang membuatnya bungkam.
Cerita itu kemudian sampai ke telinga pamannya, Satar (44), seorang tukang kayu yang bekerja di Ranai, Natuna. Saat dikonfirmasi, Satar mengaku hatinya runtuh saat mendengar pengakuan keponakan yang ia anggap seperti anak sendiri.
“Dia trauma. Takut. Dia bilang tak bisa melawan,” ujar Satar.
Gadis PRT dan Lelaki Berkuasa
Mawar hanyalah remaja biasa. Lahir Desember 2007, ia belum genap 18 tahun saat peristiwa itu terjadi. Karena kondisi ekonomi keluarga, ia bekerja sebagai PRT di rumah JD, Camat Pulau Tiga Barat kala itu.
Ibunya mengizinkan Mawar tinggal di rumah majikannya agar tidak kelelahan bolak-balik bekerja.
Namun rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi ruang gelap yang menghancurkan hidupnya.
Kepada pamannya, Mawar mengisahkan awal mula semua itu. Oktober 2025, ia dan JD berboncengan sepeda motor. Di perjalanan, JD bercerita tentang uang hasil penjualan duyok (gurita). Ia bertanya, “Mau uang tak?”













