Kepada engkau yang lahir di sebuah pulau yang tidak muncul pada ramalan cuaca televisi. Kepada engkau yang tumbuh di tempat di mana angin tahu banyak rahasia, dan orang belajar menghitung jarak dari ombak, bukan dari kalender.
Kepada engkau yang tidak tergesa-gesa menjadi siapa-siapa, sebab di pulau semua orang tahu bahwa bahkan kelapa jatuh pun punya waktunya sendiri, dengarlah; kami titipkan perahu, sampan, jaring, mimpi, duka nestapa…
Dirgahayu, Bang Iman. Kepadamu kami akan selalu belajar bagaimana beriman kepada cara pulau bersujud dan mencintai: senyap, setia, tapi tidak meminta disaksikan.
Batam, 6 November 2025
Acara sederhana itu ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah penuh kekeluargaan. Tak ada pesta megah, tapi banyak makna tersirat: usia 50 tahun bukan puncak, melainkan gelombang baru dalam pengabdian.
Bagi para tamu yang hadir, sore itu adalah renungan tentang seorang anak pulau yang berjalan jauh, namun tak pernah berhenti memandang laut dengan cinta dan rasa tanggung jawab.
“Kami hanya menitipkan satu doa dari seberang samudera: semoga langkahmu selalu kembali kepada cinta yang semula jadi itu.” tutup Ramon Damora.












