BatamEkonomi

Evaluasi Ex Officio BP Batam, Pengusaha Beri Catatan Penting

375
×

Evaluasi Ex Officio BP Batam, Pengusaha Beri Catatan Penting

Share this article
Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk. (Foto: ist)
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam – Sistem ex officio yang menggabungkan peran Wali Kota Batam dengan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menjadi sorotan jelang akan berakhirnya masa jabatan Muhammad Rudi sebagai Kepala BP Batam tahun ini.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Batam, Jadi Rajagukguk, menyoroti efektivitas kebijakan ini dalam menyelesaikan permasalahan dunia usaha selama ini.

BACA JUGA:  Banyak PR, Amsakar Achmad Sebut Persoalan Batam Tak Bisa Selesai Instan

Menurut Jadi, sistem ex officio yang awalnya dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengatasi dualisme kebijakan justru belum mencapai tujuan utamanya.

“BP Batam sudah tidak sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Apa sebenarnya tujuan awal ex officio?” tegas Jadi kepada Gudangberita.co.id, Selasa (7/1/2024).

Jadi menilai bahwa salah satu janji utama dari kebijakan ex officio adalah penyelarasan kebijakan antara Pemerintah Kota Batam dan BP Batam. Namun, dalam praktiknya belum sesuai harapan.

BACA JUGA:  Batam Darurat Pencurian Fasilitas Umum: Kapolda Kepri Tindak Tegas Pelaku yang Rusak Citra Investasi

Jadi bahkan menyarankan agar jabatan Wali Kota Batam dan Kepala BP Batam dipisahkan demi meningkatkan fokus dalam pengambilan keputusan.

KADIN Batam juga menggarisbawahi lima tujuan utama ex officio yang dianggap gagal terealisasi:

  • Penghapusan UWTO yang dijanjikan untuk meringankan beban rakyat kecil.
  • Kemudahan izin usaha bagi pengusaha lokal maupun asing melalui sistem satu pintu.
  • Kepastian investasi dengan mengurangi biaya ekonomi tinggi.
  • Pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat melalui birokrasi yang efisien.
  • Peningkatan fasilitas sosial seperti gedung sekolah, taman, dan layanan kesehatan.
BACA JUGA:  Jejak Rasa Nasi Dagang: Dari Bekal Perantau Abad ke-14 hingga 'Naik Kelas' di Kafe Mewah Batam

“Apakah kita lupa tujuan awalnya? Atau memang sejak awal kebijakan ini tidak realistis?” sindir Jadi.