harris
BatamEkonomi

Evaluasi Ex Officio BP Batam, Pengusaha Beri Catatan Penting

390
×

Evaluasi Ex Officio BP Batam, Pengusaha Beri Catatan Penting

Share this article
Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk. (Foto: ist)
banner 468x60

Gudangberita.co.id, Batam – Sistem ex officio yang menggabungkan peran Wali Kota Batam dengan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menjadi sorotan jelang akan berakhirnya masa jabatan Muhammad Rudi sebagai Kepala BP Batam tahun ini.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Batam, Jadi Rajagukguk, menyoroti efektivitas kebijakan ini dalam menyelesaikan permasalahan dunia usaha selama ini.

BACA JUGA:  Liquid Vape Berisi Bahan Berbahaya Marak di Batam, Polresta Barelang Ambil Tindakan Tegas

Menurut Jadi, sistem ex officio yang awalnya dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengatasi dualisme kebijakan justru belum mencapai tujuan utamanya.

“BP Batam sudah tidak sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Apa sebenarnya tujuan awal ex officio?” tegas Jadi kepada Gudangberita.co.id, Selasa (7/1/2024).

Jadi menilai bahwa salah satu janji utama dari kebijakan ex officio adalah penyelarasan kebijakan antara Pemerintah Kota Batam dan BP Batam. Namun, dalam praktiknya belum sesuai harapan.

BACA JUGA:  Mutasi Besar-Besaran di Polda Kepri: 475 Personel Bergeser, Ini Daftar Lengkap Pejabat & Perwira yang Dirotasi

Jadi bahkan menyarankan agar jabatan Wali Kota Batam dan Kepala BP Batam dipisahkan demi meningkatkan fokus dalam pengambilan keputusan.

KADIN Batam juga menggarisbawahi lima tujuan utama ex officio yang dianggap gagal terealisasi:

  • Penghapusan UWTO yang dijanjikan untuk meringankan beban rakyat kecil.
  • Kemudahan izin usaha bagi pengusaha lokal maupun asing melalui sistem satu pintu.
  • Kepastian investasi dengan mengurangi biaya ekonomi tinggi.
  • Pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat melalui birokrasi yang efisien.
  • Peningkatan fasilitas sosial seperti gedung sekolah, taman, dan layanan kesehatan.
BACA JUGA:  Ekonomi Batam Meroket Tapi Pengangguran Masih Hantui Warga, Apa yang Salah?

“Apakah kita lupa tujuan awalnya? Atau memang sejak awal kebijakan ini tidak realistis?” sindir Jadi.