Soal keterlambatan penanganan, Amsakar berdalih proses tender tidak bisa dilakukan secara instan karena terikat aturan. Ia menjelaskan tender baru dapat dimulai Februari dengan estimasi pengerjaan paling cepat empat bulan. Sambil menunggu, BP Batam akan mengirimkan armada air tangki sebagai solusi sementara.
Namun penjelasan tersebut ditanggapi keras Koordinator Warga Tanjung Sengkuang, Samsudin. Ia menilai Amsakar terlalu bertumpu pada argumen normatif, sementara kondisi di lapangan tidak berubah.
“Bapak sebagai Kepala BP Batam hanya bisa mengandalkan argumen. Namun faktanya berbeda,” ucap Samsudin.
Pernyataan itu memicu reaksi emosional. Amsakar meminta agar tidak ada serangan personal dan langsung turun dari atas mobil petugas. Ketegangan semakin meningkat ketika Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra ikut melontarkan pernyataan bernada keras kepada koordinator warga. Situasi baru mereda setelah Samsudin menenangkan massa dan meminta peserta aksi tidak terpancing emosi.
Aksi ini menegaskan tingginya tekanan publik terhadap Pemko Batam dan BP Batam terkait krisis air bersih yang berlarut-larut.
Warga menuntut solusi konkret, bukan sekadar janji dan penjelasan prosedural, sementara pemerintah daerah diuji konsistensinya dalam merealisasikan komitmen kampanye di tengah krisis layanan dasar.













