“Apa kurangnya kami lagi? Sumbangan apa yang kurang dari orang melayu ini untuk Indonesia sehingga kami dianaktirikan di tanah sendiri. Moyang saya Raja Haji Fisabilillah mati diterjang peluru yang menembus dadanya. Ia syahid fisbilliah memperjuangkan tanah ini dari Belanda,” kata Raja
“Bapak saya, Raja M Yunus. Ikut menggabungkan Riau ini dulu ke Republik Indonesia Serikat. Dan saya tidak rela sebagai cucunya ketika Indonesia tidak adil kepada kami orang-orang melayu. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah. Jangan takut di dada kita, di diri kita mengalir juga darah orang-orang berani yang membela tanah air Indonesia,” ucapnya.
Sayangnya, unjuk rasa di depan Gedung BP Batam itu berujung ricuh setelah sejumlah pemuda melakukan aksi anarkis menghancurkan pagar BP Batam dan melempar batu dan benda lainnya.
Mereka tampak sudah putus asa dan pesimis dengan jawaban Kepala BP Batam, Rudi terkait tuntutan mereka menolak relokasi warga di Rempang. Polisi akhirnya turun tangan menggerakkan pasukan Dalmas lanjutan mengamankan para demonstran.
Bahkan situasi di Batam Center sempat mencekam siang itu. Massa kemudian dipukul mundur hingga Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam. Gas air mata beterbangan di sekitaran Batam Center.













