Pada 2024, nilai ekspor timah Indonesia mencapai USD1,44 miliar, dengan negara tujuan utama seperti Cina (USD284,28 juta), India (USD245,36 juta), dan Korea Selatan (USD158,26 juta). Pabrik hilirisasi di Batam diharapkan mampu meningkatkan kontribusi Indonesia terhadap pasar global, sekaligus memperkuat posisinya dalam ekosistem semikonduktor yang kini menjadi komponen penting dalam industri teknologi dunia.
Keunggulan Batam sebagai Pusat Hilirisasi
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyebut bahwa Batam memiliki keunggulan strategis sebagai pusat hilirisasi. Letaknya yang dekat dengan jalur perdagangan internasional Selat Malaka dan statusnya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadikan Batam tempat ideal untuk investasi industri hilir.
“Hilirisasi di Batam adalah langkah konkret untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional sekaligus membawa kesejahteraan bagi masyarakat Kepri,” kata Ansar.
Dengan investasi sebesar Rp1,2 triliun dalam pembangunan pabrik-pabrik ini, pemerintah optimis Indonesia dapat menjadi pusat produksi timah hilir terbesar di dunia. Proyek ini juga sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.













