“Kita masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar dalam membangun budaya literasi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, penguatan literasi dasar tetap menjadi fondasi yang sangat penting,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa literasi bukan sekadar mengeja teks, melainkan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Jika kemampuan bernalar dan literasi dasar siswa sudah kuat, maka mempelajari bahasa asing apa pun—termasuk bahasa Prancis—akan menjadi jauh lebih mudah.
Karakteristik Daerah Berbeda, Kebijakan Harus Fleksibel
Sebagai tokoh dari Kepulauan Riau (Kepri)—wilayah yang berbatasan langsung dengan jalur perdagangan internasional, Harken memahami pentingnya komunikasi lintas budaya. Namun, ia mengingatkan bahwa kebutuhan tiap daerah di Indonesia tidak bisa disamaratakan.
“Indonesia adalah negara yang sangat luas dan beragam. Kebutuhan pendidikan di satu daerah bisa berbeda dengan daerah lainnya. Karena itu, kebijakan yang bersifat nasional perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan,” jelas Harken.
Di akhir keterangannya, Forum TBM Kepri berharap wacana pengajaran bahasa Prancis ini tidak sekadar menjadi debat kusir antara pihak yang setuju dan tidak setuju. Isu ini harus dijadikan momentum untuk membenahi sistem pendidikan nasional secara komprehensif.












