“Biar Mati Berdiri Daripada Hidup Berlutut”
Tangan-tangan yang biasa menggenggam cangkul dan memasak untuk keluarga kini terangkat tinggi, memegang erat poster-poster itu.
Mata mereka berkaca-kaca, tetapi semangat mereka tak luntur. Mereka bukan hanya datang untuk mendukung Nek Awe, Rio, dan Abu Bakar, tetapi juga untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Sesaat sebelum memasuki Mapolresta Barelang, Nek Awe berhenti sejenak. Usianya sudah senja, tetapi suaranya tetap teguh. Ia menoleh ke arah warga yang setia berdiri di balik pagar. Dengan suara serak yang dipenuhi emosi, ia berkata,
“Aku tetap semangat. Ini bukan cuma tentang aku, ini tentang kampung kita, tentang anak-cucu kita nanti. Kalau bukan kita yang menjaga tanah ini, siapa lagi?”
Sejenak, suasana hening. Hanya ada suara angin yang membawa debu jalanan. Kemudian, terdengar isak tangis pelan dari seorang ibu di barisan belakang. Diikuti tepukan pelan ke bahu masing-masing, saling menguatkan.
Hari itu, di bawah terik matahari, warga Rempang tidak hanya berdiri untuk mendukung tiga warganya. Mereka berdiri untuk mempertahankan hak mereka, untuk menjaga kampung halaman mereka dari ancaman penggusuran. Meskipun mereka tak diizinkan masuk, mereka tak merasa kalah.












