Gudangberita.co.id, Batam – Badan Pengusahaan (BP) Batam baru saja memamerkan capaian makro ekonomi yang sangat fantastis. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra diklaim menembus angka Rp69,3 triliun, melampaui target yang dipatok sebesar Rp60 triliun. Tren meroket ini bahkan berlanjut ke Triwulan I 2026 dengan torehan investasi mencapai Rp17,4 triliun.
Angka-angka triliunan rupiah ini sekilas menempatkan Batam sebagai magnet investasi nomor satu di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,76 persen. Sektor-sektor kakap mulai dari industri elektronik, semikonduktor, galangan kapal, hingga logistik modern tumbuh subur bak jamur di musim hujan.
Namun, di balik kegemilangan angka-angka di atas kertas tersebut, sebuah pertanyaan besar dan krusial mencuat ke permukaan. Jika investasi sedemikian banjir, mengapa genangan air, kelumpuhan jalan utama, hingga krisis sampah pemukiman yang membusuk masih menjadi ‘hantu’ menakutkan yang menyengsarakan warga Batam?
Persoalan infrastruktur yang kontras dengan klaim kemajuan ekonomi ini sangat terasa di sektor pengelolaan lingkungan domestik. Di sejumlah kelurahan di Kecamatan Bengkong, warga harus mengurut dada akibat tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut oleh petugas kebersihan.













