Pantauan di lapangan menunjukkan hampir seluruh tong sampah di lingkungan tersebut meluap, membeludak, dan mengeluarkan bau menyengat yang merusak kenyamanan warga. Kondisi ini kian diperparah oleh tingginya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir yang mempercepat pembusukan sampah rumah tangga, terutama sampah dapur.
“Baunya sudah sangat menyengat. Sampah terus menumpuk, apalagi sering hujan sehingga cepat busuk. Kami sampai hampir sesak napas mencium baunya,” cetus Fian, salah seorang warga dengan nada frustrasi, Minggu (31/5/2026).
Ironisnya, menurut penuturan warga lain bernama Rianti, borok pelayanan ini bukan barang baru. Sejak sebelum Hari Raya Idulfitri lalu, pengangkutan sampah di lingkungan mereka dilaporkan hanya dilakukan sekitar satu kali dalam sebulan. Akibatnya, banyak warga terpaksa membuang sampah ke tempat lain karena tong sampah di depan rumah sudah tidak mampu lagi menampung muatan, hingga mengundang kawanan lalat.
Masyarakat mengaku sudah berulang kali mengadu melalui petugas penagih iuran, perangkat RT, hingga diteruskan ke pihak kelurahan dan kecamatan. Namun, hasilnya nihil tanpa tindakan nyata.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Iqbal, mengakui bahwa pengangkutan sampah di sejumlah kawasan permukiman memang belum berjalan normal. Alasan klasiknya, keterbatasan armada pengangkut serta menjamurnya lokasi Tempat Sampah Sementara (TPS) liar.













