Bagaimana mungkin kota dengan realisasi investasi menembus Rp69,3 triliun dan kontributor ekonomi terbesar di Kepri masih kelabakan membiayai penambahan armada truk sampah? Bagaimana mungkin kota industri saingan Singapura ini harus “lumpuh” dan mogok massal setiap kali awan hitam menurunkan hujan akibat sistem drainase yang gagal mengimbangi laju beton proyek?
Surplus investasi dari sektor kakap selevel elektronik, semikonduktor, dan manufaktur berorientasi ekspor seharusnya mampu dikonversi menjadi anggaran nyata untuk normalisasi drainase skala besar, pembangunan kolam retensi yang mumpuni, serta modernisasi logistik sampah.
Tantangan terbesar kepemimpinan Amsakar–Li Claudia saat ini bukan lagi sekadar memamerkan angka grafik investasi yang meroket di ruang rapat, melainkan membuktikan kepada warga Sadai, Batuaji, dan para pekerja Mukakuning bahwa triliunan rupiah itu bisa mengusir ‘hantu’ banjir dan bau busuk sampah dari kehidupan mereka sehari-hari.













