Fajar belum muncul ketika Pelantar Pelimpak mulai bernafas. Dari celah-celah papan tua yang lembap, aroma kopi merayap lebih cepat dibanding cahaya pagi. Ombak yang memukul tiang-tiang terdengar seperti denting jam yang tak pernah berhenti menghitung perjalanan waktu kampung tua di tepi perbatasan.
Mendung menggantung di atas laut. Tapi kedai-kedai kopi tetap penuh. Di sanalah, di atas balok-balok yang menua bersama ingatan, cerita lama Serasan berulang setiap pagi: kisah dagang yang tak kenal batas, pertemanan dua negeri, juga luka yang pernah menganga.
Heri Rusmawi, 45 tahun, duduk di bangku kayu yang sudah ia tempati sejak remaja. Tangannya menggenggam cangkir kopi, suaranya lirih tapi tegas.
“Dulu… di sini pernah dikibarkan bendera Malaysia,” katanya. Sejenak kedai itu hening, hanya terdengar desau angin yang menyeret bau garam.
Pelantar yang Menyimpan Rahasia Laut
Pelimpak Laut adalah kampung tua yang bertahan. Lima jam dari sini, kapal-kapal nelayan Serasan bisa mencapai Sematan, Kuching. Hubungan dua wilayah ini sudah ada jauh sebelum Republik berdiri tanpa garis batas, tanpa paspor, hanya laut sebagai jalan pulang.
“Belum ke Serasan kalau belum ngopi di sini,” kata Heri.
Kedainya hanya buka hingga matahari naik. Bukan sekadar menjual kopi, kedai membuka ruang tempat pulau ini saling mendengar.
Setiap pagi, pelantar berubah menjadi ruang tunggu informasi. Nelayan pulang membawa kabar ombak. Pedagang datang menghitung untung. Warga membicarakan apa saja, cuaca, harga ikan, rumor politik, hingga keluhan sembako yang makin mahal. Informasi mengalir seperti pasang surut lebih cepat dari radio mana pun.













