Kampung tua ini adalah bagian dari pertaruhan masa depan. Hari merayap menuju siang. Kedai-kedai kopi mulai tutup. Tapi di pelantar, pembicaraan tak pernah padam, tentang armada laut yang perlu diperkuat, peluang investasi yang sedang ditimbang, hingga pasar Malaysia yang seolah membuka pintu lebih lebar.
Di kampung tua ini, Serasan merundingkan nasibnya sendiri. Selama kopi masih menghangatkan pagi, Pelantar Pelimpak akan tetap menjadi jantung Serasan, tempat masa lalu bersandar, dan masa depan diikat perlahan.













