Dagang Lintas Batas yang Tak Pernah Tidur
Sejak PLBN dibuka, denyut ekonomi Serasan bertalu lebih deras. Motor kargo dari Sematan membawa barang-barang yang tak mudah ditemukan di pulau. Warga menunggu, pedagang menghitung, dan nelayan menjual hasil lautnya dengan harga lebih tinggi. Ikan Kerapu merah bisa sampai 19 Ringgit Malaysia per kilo. Masa depan yang lebih terang.
Tapi pelantar ini juga tahu sisi lain dari hidup perbatasan, harga yang tiba-tiba jatuh, stok minyak yang habis, hingga kisah lama warga yang pernah membawa telur penyu ke luar pulau demi bertahan hidup.
“Itu dulu… sekarang sudah berubah,” kata seorang pedagang sambil memandangi laut, seakan memeriksa apakah masa lalunya masih mengintip dari balik ombak.
Ketika batas menjadi luka, sekitar 2010 silam, Serasan diguncang peristiwa yang membelah perasaan warga. Kepala Desa dan Camat ditahan karena mengibarkan bendera Malaysia dalam sebuah acara kampung. Laut yang dulu menjadi jalan sunyi persaudaraan tiba-tiba berubah menjadi garis tipis yang harus dipatuhi. Peristiwa itu meninggalkan bekas.
“Kami hidup dekat, tapi dipisah garis. Sejak kejadian itu, Serasan mulai diperhatikan,” kata Heri.
Sebagian warga merasa dicurigai, sebagian lain merasa kehilangan ruang untuk bernapas. Identitas warga perbatasan adalah persilangan, Indonesia di dokumen, tapi Malaysia begitu dekat dalam keseharian.













