“Makanan pagi, siang, malam selalu ikan asin tamban yang tidak laku di pasar. Saya menduga ada permainan di dapur rutan,” ujarnya menambahkan.
Yusril juga menyebut sirkulasi udara yang minim dan kondisi mental tahanan yang tertekan memperparah lemahnya daya tahan tubuh, sehingga penyakit kulit mudah menular.
“Saya Bertahan Karena Siap Obat Sendiri”
Yusril mengaku bersyukur tidak ikut tertular. Sebelum masuk tahanan, ia sudah menyiapkan dua papan antibiotik, 20 botol salep racikan apoteker, dan 20 botol bedak cair antiseptik.
“Setelah mandi saya oles seluruh badan. Tapi bagaimana dengan tahanan yang tidak punya uang? Mereka tidak bisa beli obat. Kasihan,” katanya lirih.
Ia bahkan mengaku menolak makan nasi jatah rutan karena dianggap tidak layak. “Saya beli catering sendiri. Kalau lihat nasi tahanan, itu paling seharga tujuh ribu rupiah per porsi,” ujarnya.
Fenomena “Sima Napi” yang diceritakan Yusril diduga kuat adalah skabies atau kudis, penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei.
Penyakit ini lazim ditemukan di tempat padat dan lembap seperti lembaga pemasyarakatan, karena penularannya mudah melalui kontak kulit langsung atau berbagi perlengkapan tidur.












