
Wali Kota Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), Herry Sembiring, menilai kenaikan tersebut sangat disayangkan karena dinilai tanpa sosialisasi terbuka dan minim koordinasi dengan legislatif.
“Seharusnya ada dialog lebih dulu, karena ini berdampak langsung pada daya saing industri. Biaya produksi tentu akan melonjak dan menjadikan daya saing Batam kurang kompetitif. Dikhawatirkan investor akan memindahkan lokasi produksinya ke tempat lain. Apalagi Malaysia dan Vietnam sekarang tengah gencar menggaet investor dengan sejumlah insentif dan kemudahan yang mereka berikan,” ujarnya.
Menanggapi kritik tersebut, Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN Batam, Novi Hendra, membenarkan adanya penyesuaian tarif. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada pelanggan yang terdampak.
“Iya, sudah disampaikan ke pelanggan untuk Blok 3-nya,” ujar Novi pada Senin, 19 Mei 2025. Ia menambahkan, “Sudah disosialisasikan ke pelanggannya masing-masing.”
Meski demikian, dinamika komunikasi dan transparansi dalam kebijakan energi kembali menjadi sorotan, terutama di tengah upaya Batam menjaga iklim investasi dan industri yang kompetitif.













