“Hampir tidak terbayangkan bagaimana mereka melewatkan hal ini,” ujar Polymeropoulos, dikutip NBC, Senin (9/10).
Juga tidak jelas mengapa badan-badan intelijen AS tampaknya tidak memperkirakan serangan itu terjadi. Begitu juga dengan negara-negara Arab bersahabat seperti Mesir, Yordania, Qatar dan Arab Saudi, ujarnya. “Saya tercengang,” cetus Polymeropoulos.
Colin Clarke, peneliti senior di Soufan Center, sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada masalah keamanan global, mengatakan Israel harus memikul tanggung jawab utama karena gagal mengantisipasi serangan Hamas.
“Israel memiliki kemampuan pengumpulan dan analisis intelijen kelas dunia yang luar biasa dan akan memiliki gambaran yang jauh lebih baik tentang apa yang terjadi di negaranya sendiri. Hal ini jelas menjadi tanggung jawab Israel,” ujarnya.
Clarke mengatakan masih menjadi pertanyaan terbuka apakah gejolak politik dalam negeri baru-baru ini di Israel berperan dalam kegagalan intelijen tersebut.
David Friedman, yang merupakan duta besar AS untuk Israel di pemerintahan Presiden Donald Trump, mengatakan: “Selama 40 tahun atau lebih saya mengikuti Israel, saya belum pernah melihat hal ini terjadi.”
“Saya belum pernah melihat perbatasan dilanggar dengan cara seperti ini. Biasanya, bahkan jika ada satu orang dari Gaza yang mendekati perbatasan, mereka dicegat dan dinetralisir jauh sebelum mereka dapat melakukan apa pun. Ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ini tentu saja merupakan kegagalan intelijen yang besar,” imbuhnya.













