EkonomiZona Headline

Struktur Ekonomi Indonesia Didominasi Oligarki, Pengamat: Deindustrialisasi yang Lebih Bahaya dari Dutch Disease

344
×

Struktur Ekonomi Indonesia Didominasi Oligarki, Pengamat: Deindustrialisasi yang Lebih Bahaya dari Dutch Disease

Share this article
Ilustrasi
banner 468x60

Akibatnya, pelaku industri manufaktur kehilangan banyak permintaan, karena negara-negara importir yang awalnya mengimpor dari Belanda beralih ke negara lain yang mata uangnya lemah, seperti Jerman.

“Dan hasil akhirnya, banyak pelaku manufaktur yang gulung tikar. Kontribusi manufaktur mendadak turun alias mengalami deindustrialisasi,” tegas Ronny.

Sementara di Indonesia, deindustrialisasi di Indonesia menurut Ronny lebih disebabkan masih besarnya barang-barang impor untuk konsumsi, karena harganya yang masih murah dibanding produksi dalam negeri.

BACA JUGA:  Gusur Warga di Tengah Isu Mundurnya Investor, Proyek Rempang Eco-City Tuai Kecaman

“Deindustrialisasi tidak karena kutukan apresiasi Rupiah. Mata uang kita semakin melemah dari waktu ke waktu. Yang kita alami adalah persis seperti Amerika, kehancuran domestic supply chain karena pertumbuhan terlalu bergantung pada konsumsi,” ucap Ronny.

Untuk menyenangkan konsumen dengan barang murah, barang impor akhirnya mendominasi karena lebih murah. Manufaktur Indonesia pada era pasca 2002 menurutnya kalah bersaing secara teknologi dan gagal menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan murah.

BACA JUGA:  Suplai Air Mati Total di Belasan Wilayah Batam, Begini Update Terbaru dari Lokasi Perbaikan

“Kita belum mampu memproduksi barang manufaktur yang bisa bersaing dengan produk China, Jepang, Malaysia, atau Bangladesh, misalnya. Jadi jauh lebih akut dan struktural dari Dutch Disease, seperti yang disampaikan ibu (Amalia),” tuturnya.